Minggu, April 01, 2007
Mengapa berteriak?
Membaca sebuah posting di milis alumni SMU, ada email yang subyeknya 'Mengapa berteriak?'. Isinya, ada tanya jawab antara guru dan murid. Sang guru nanya mengapa saat marah orang-orang berteriak? Setelah sekian jawaban para muridnya (yang tentunya salah semua... biasalah email yang seperti itu), sang guru akhirnya menjawab bahwa saat marah, hati orang jadi menjauh hingga untuk berkomunikasi harus mengeraskan suara agar bisa sampai ke lawan bicara.
Sebaliknya, orang-orang yang saling menyayangi satu sama lain biasanya menghaluskan suaranya. Malah tanpa bicara pun sudah saling mengerti.
Hari ini, seorang ibu tenaga_ahli_proyek_masokis berteriak-teriak sepanjang hari di ruang rapat kantor. Semua orang yang masuk ke ruang rapat ga lepas dari semprotan penuh caci makinya. Untungnya rekan-rekan kantor termasuk orang-orang yang sabar. Biarpun dihina direndahkan diinjak-injak dimarah-marahin, bisa menjawab dengan suara yang tidak tinggi. Bukan hanya yang masuk ke ruang rapat, orang-orang yang tidak masuk ruang rapat nanya-nanya kapan si pengganggu itu pulang. Ya iyalah, seharian jerit-jerit gitu gimana ga ganggu orang kerja?
Beberapa hari kemudian (yah, ini nge-blog-nya dah lewat nyaris sebulan sejak tanggal berdarah itu sih), sang ratu curhat karena dia tidak lagi diinginkan oleh orang-orang di sekitarnya. Bahwa tempat mengabdinya selama ini bukannya menghargai hasil perjuangannya selama ini malahan berusaha mengusir dia 'ke Siberia' (maksudnya sih ke Sumatera doang.. biasa hiperbola..).
Yah, aku pingin merasa iba, tapi sayangnya jarak yang sudah dia ciptakan dengan hatiku sudah terlalu jauh. Aku bukannya sangat mendukung pemindahannya ke sana, bukan juga ingin menahannya di sini. Cool dong, datar-datar aja lah.. Pergi ya pergilah ga usah pake sedih-sedihan. Kalo mo tinggal juga ya silakan, asal ga ngeganggu aja.. (mode jahad)
Moral dari cerita ini, jangan berteriak ke orang-orang yang berarti/dekat denganmu. Teringat posting email lain dari milis jurusan, seorang anak tidak mau satu ruangan dengan ibunya. Begitu ditanya alasannya, jawabannya: 'Bagaimana aku bisa memeluk seekor landak?'.
Kalau bisa menyelesaikan persoalan dengan cara yang baik, kenapa memilih cara yang buruk?
posted by Si Melon at 5:57 PM

|
Permalink |
-
-
w kasian,brsimpati(tanpa k,karna lg ga pake batik simpansenya) sm si beliau sbnrnya.misi beliau mngkn bagus,tp caranya kurang simpatik(nah,yg ini pake batik,hoho)
makanya simpati org2 jd tdk bs sampai k beliau dg cara yg semestinya(krn bliau sndiri yg bikin org2 jd jauh hatinya)
&cara bliau yg ga menyamankan org2 skitar tu jg,perlu ditelaah lbh dlm lg.selalu ada sebab atas sgl ssuatu,ceunah
quite sure,sbnrnya lu syg ma bliau
pntsn lu kl ngomong k gw bisik2 gt(pntsn apacoba?).dan eniwei,koq w berasa prnh baca imel yg itu yak?(yaiyyalah,di milis jurusan)
ps:simpatik=simpanse pake batik,hoho.comment seblumnya w delete,soalnya kurang komplit.drpd nulis duakali,he
-
wah bayangkan saja si ahli proyek masokis yang suka teriak-teriak itu berkulit landak .. mungkin bisa disebut tazmanian devil ... waks...
ato siberian devil ?
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.