Pernah dengar nama Iriantine Karnaya?Beliau adalah dosen gw untuk mata kuliah Seni Rupa di Universitas Indonesia. Bu Tine (yah, gitu panggilan sehari-harinya) orangnya bener-bener nyeni. Rasanya seluruh bagian dari dirinya meneriakkan satu kata, "Art!". Bajunya selalu unik, indah, ga pasaran, tampak nyaman, dan beliau banget lah; kantornya unik; barang-barang yang dipajang di mejanya nyeni abiess. Dalam profesinya, orangnya produktif, sering menggelar pameran dan eksebisi di berbagai museum di Jakarta. Pribadinya? Ooh, sangat menyenangkan, keibuan, dan dalam waktu bersamaan juga sangat berwibawa, profesional!
Pas ujian tengah semester kami diminta mengekspresikan perasaan kami setelah ngider-ngider di Museum Nasional seharian (pulangnya dihadiahin es krim sama Bu Tine... Makasih, Bu!!). Lain lagi dengan ujian akhir semester, kami duduk berpasang-pasangan dan diminta untuk memindahkan senyuman pasangan kita ke atas kertas. Ujian yang memaksa (tapi gw sih ga merasa terpaksa) kita untuk tersenyum dari mulai sampai berakhir! Temen-temen jadi pada becanda biar bisa ngeluarin senyum temen-temen yang lain.. Menyenangkan!
Bu Tine, kalau bukan karena nasihat dari Bu Tine, mungkin gw ga bakal pindah kuliah ke Bandung. Hanya Bu Tine yang dengan tegas (tapi lembut) memberitahu sekeras apa pun usaha gw, tetep aja gw ga punya bakat seni. Hanya beberapa baris kalimat saja dari beliau, gw bisa yakin bahwa arsitektur bukan jalan hidup gw. Keputusan yang berat pada awalnya, apalagi menentang harapan ortu. Tapi kata-kata Bu Tine ga bisa gw lupain, berpegang dengan kata-kata itu, gw hengkang dari arsitektur, pindah ke informatika. Dan begitulah, di sini gw merasa inilah jalan hidup gw! :D
Seringkali mengambil keputusan itu hal yang sukar. Apalagi mengambil keputusan untuk melakukan perubahan. Masih belum selesai di situ, untuk berubah sendiri adalah hal yang paling sulit.
Sesuai hukum fisika, setiap benda yang bergerak itu bersifat lembam. Benda itu akan terus bergerak kecuali ada yang menghambat. Hambatan itu sendiri ada yang sifatnya tiba-tiba dan ada yang perlahan-lahan. Yang tiba-tiba seperti benturan dengan benda lain, bisa membuat benda awal berubah arah dengan momentum yang pas. Yang perlahan-lahan seperti gesekan dengan koefisien yang 'hanya' kurang dari 1, lambat tapi pasti menyebabkan benda itu berhenti.
Untuk hidup gw di arsitektur, gw bersyukur ada teguran yang cukup keras yang membuat gw pindah arah (mending daripada berhenti kan?). Bu Tine bener-bener dah ngajarin gw cara membulatkan tekad untuk berubah. I love you, Bu Tine!
-Mendadak pengen nge-blog tentang Bu Tine setelah dapet undangan solo exhibition-nya-
IRIANTINE KARNAYA's
Fifth Solo Exhibition
Entitled "TODAY' MENU"
On June 15th 2007
7.30 p.m
At Museum Nasional Jl. Merdeka Barat No.12 Jakarta Pusat
Curator: Adi Wicaksono
Officiated By: Butet Kartaredjasa




ooo ternyata bu tine itu toh yang membuat mu ke if. dulu aku membayangkan dosen itu bapak-bapak... soalnya tega gitu ngomong ngga punya bakat seni. padahal arsi kan ngga segitu butuh nya seni bukan ..:D
tapi jadinya ketemu sama jodoh kan gal ? hehe ...
eh btw .. tulisan kamu ini bagus .. kenapa ngga ditulis di simelon blog ? kalo di sini kan ngga ketauan sama temen-temen ... tul kan ? ato ini emang buat diri sendiri ?